Ratusan Alumni Pesantren BIMA Tembus Kampus Eropa, Jepang, Tiongkok, Taiwan dan Timteng
Sabtu, 1 Juli 2023 09:54 WIB
Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, Jawa Barat, mewisuda lulusan SMP IT, SMK, dan MAUBI (Madrasah Aliyah Unggulan Bertaraf Internasional) di Hotel Aston Cirebon pekan lalu. Acara ini dihadiri lebih dari 1000 hadirin dari wisudawan, civitas, dan keluarga.
Menurut Ketua Panitia, Dr. H.C. Ubaydillah Anwar, yang menjadi kesyukuran tahun ini adalah target Pesantren Bina Insan Mulia untuk mengirim ratusan alumninya ke berbagai kampus bertaraf internasional di luar negeri tercapai dengan baik.
Sebanyak 68 persen alumni melanjutkan kuliah di berbagai negara. Selebihnya melanjutkan di kampus Negeri / swasta dalam negeri. Mereka berangkat dari jalur mandiri dan beasiswa.
“Keberhasilan ini tak lepas dari perjuangan KH. Imam Jazuli, Lc., MA melakukan road show ke berbagai negara untuk menjalin kerja sama dengan sejumlah universitas dan lembaga sayapnya 2-3 tahun terakhir ini,” jelas Ubaydillah. “Ke depan, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia akan memberikan perhatian khusus ke Amerika dan Inggris,” tambahnya.
Suasana wisuda santri Pesantren BIMA saat wisuda di Hotel Aston Cirebon. Ratusan alumni Pesantren BIMA lanjutkan pendidikan keluar negeri.
Dari alumni SMK dan MAUBI yang berjumlah 192 santri, sebanyak 6 orang melanjutkan ke kampus di Eropa, tepatnya di Jerman dan Perancis. Mereka akan berkuliah di Albert Ludwigs German, Freiburg of Germany, Technische Universität München, dan Sorbonne University. Program study yang diambil adalah teknologi, bisnis internasional, dan manajement perhotelan.
Sedangkan untuk di Australia, tahun ini ada 2 santri, tepatnya di Queensland. Mereka akan masuk di Tafe Queensland dan Queensland Academy untuk program study IT dan business commercial. Negeri Sakura Jepang juga menjadi tujuan belajar 3 santri Bina Insan Mulia.
Mereka akan masuk di Waseda University, Shibaura Institute of Technology, dan Shizouka University dengan program study teknologi dan bisnis internasional.
Negeri Taiwan dan Tiongkok mendapatkan peminat yang cukup besar. Sebanyak 33 santri Bina Insan Mulia melanjutkan kuliah di negeri Formosa itu. Sebagian besar di China University of Technology dan di ST. Jhon University. Para santri melanjutkan study bidang IT, farmasi, teknik sipil, teknik mesin, dan business management.
Sejumlah kampus di Turki juga diminati oleh alumni Bima. Tahun ini, ada 32 yang melanjutkan ke negeri Erdogan itu, antara lain di universitas Ankara, Bandirma, Bogazicu, Bursa Technical, Docuz Eylul, Istanbul Technical, Kirklarely, Middle East Technology, Necmettin Erbakan Selcuk, Suleyman Demirel, Uludag Bursa, dan Bogazici University. Program studi yang dipilih antara lain teknologi IT, keislaman & bahasa, ekonomi, biomedical, farmasi, teknik mesin dan industri, dan teknologi komunikasi.
Alumni Bina Insan Mulia juga banyak yang tertarik melanjutkan kuliah di Tunisia. Bahkan akan menjadi populasi mayoritas pelajar Indonesia di sana. Sebanyak 28 santri Bima melanjutkan ke kampus tertua di negeri itu, yaitu Universitas Az-Zaitunah Tunisia. Program studi yang dipilih beragam tapi secara umum adalah studi Islam dan bahasa Arab.
Kampus Al-Azhar Mesir tetap menjadi pilihan utama bagi sebagian alumni Bima, meskipun tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini ada 6 orang yang akan melanjutkan ke kampus tertua di negeri Nil itu. Mereka mengambil program studi shariah, filsafat, dan ushuluddin.
Selain melanjutkan ke berbagai negara, alumni Bima juga mengisi kampus-kampus negeri dan swasta di dalam negeri, baik jalur mandiri dan beasiswa. Antara lain: UIN Jakarta, UIN Bandung, UIN Malang, UPI Bandung, Unpad Bandung, UNJ Jogjakarta, UNS Semarang, UNS Solo, Undip Semarang, Akademi Militer, dan Universitas Telkom Bandung.
Sisanya, melanjutkan ke berbagai kampus swasta seperti Universitas Muhammadiyah, STIKES, UNU, dan lain-lain. Program studi yang diambil variatif, mulai study keislaman, keperawatan, IT, teknik, dan bahasa.
K.H. Imam Jazuli, Lc., MA. dalam sambutannya menegaskan bahwa layanan dan perhatian pesantren terhadap alumninya menjadi prioritas.
Beliau menggambarkan seperti produk. Biar pun bahannya bagus dan sudah diproses dengan bagus, namun jika output-nya tidak mendapatkan penanganan dengan bagus, maka kualitasnya akan berkurang.
“Berapa banyak alumni pesantren yang dulunya hebat dan bagus, tetapi setelah keluar salah pilihan, bahkan salah jalan,” tandas beliau.
Karena itu, tambah beliau, sebagai feedback atas perhatian pesantren tersebut, para alumni diharapkan dapat membentuk jaringan Bina Insan Mulia di luar negeri dan di dalam negeri, menjadi brand ambassador, dan menjaga nama baik pesantren.
“Itu semua kuncinya ada di sense of belonging (rasa memiliki) di hati alumni terhadap pesantren,” jelas beliau.
Adapun untuk alumni SMP IT Bina Insan Mulia, 90% melanjutkan lagi di Pesantren Bina Insan Mulia. Ada yang melanjutkan di MAUBI dan SMK.
“Hal ini adalah kepercayaan masyarakat, khususnya wali santri, yang benar-benar harus dijaga dan terus ditingkatkan menjaganya,” pesan Kiai Imam Jazuli kepada para guru dan para pembimbing.
CETAK PULUHAN HAFIDZ DAN HAFIDZAH HANYA 4 BULAN,
PESANTREN VIP BINA INSAN MULIA 2 BIKIN MENAKERTRANS SUJUD SYUKUR
Sejak Jumat (23 Juni ‘23 hingga Minggu (26 Juni ‘23) Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 punya hajat besar yang dilaksanakan di Aston Hotel Cirebon dan di Luxton Hotel & Convention Cirebon secara maraton.
Hajat itu berkaitan dengan wisuda peserta Program Tahfidz Al-Quran, Program Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Sains, dan Qiroatul Kutub.
Khusus untuk Program Tahfidz Al-Quran, capaian para santri SMP Unggulan Bertaraf Internasional dan SMA Unggulan Bertaraf Internasional Bina Insan Mulia 2 benar-benar memukau. Hanya dalam waktu efektif 4 bulan (satu semester), mereka mampu menghafal 30 juz.
“Dari 300 peserta, 40 orang berhasil sampai 30 juz. Sisanya beragama, dari 15 juz ke atas (30%), dan di atas 5 juz (50%),” jelas Ustadzah Siti Zahro, M.Pd.I, Kepala Sekolah SMA Unggulan Bertaraf Internasional Bina Insan Mulia.
Satu dari 40 santri itu adalah Adilhaq Firmanda, putra Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia, Dr. Hj. Ida Fauziyah, MS.i. Dalam sambutannya sebagai wali santri, Bu Menteri menyampaikan syukur, terima kasih yang luar biasa kepada Pengasuh Pesantren dan jajarannya sekaligus minta maaf bila ada santri-santri yang terkadang bikin kesel.
“Saat mendengar Adil termasuk anak yang hafal 30 juz, saya langsung sujud syukur, kebahagiaan saya melebihi kebahagiaan memiliki apapun, kebahagiaan saya di atas kebahagiaan,” ungkap Bu Menteri.
Kepada para santri, Bu Menteri berpesan bahwa berapa juz pun yang telah diraihnya, itu adalah kesyukuran yang luar biasa, karena mereka telah berjuang hebat siang malam. Yang penting, menurut Bu Menteri, jangan sampai hanya hafal. Harus dilanjutkan dengan menjaga, mengamalkan, dan mengamalkan untuk orang lain.
Diakui oleh K.H. Imam Jazuli, Lc. MA, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia 1& 2 bahwa Program Tahfidz Al-Quran adalah program yang paling berat. Karena itu, beliau sangat mengapresiasi keberhasilan yang fantastis dari para santri Bina Insan Mulia 2.
Wisuda Program Tahfidz Al-Quran tahun ini diikuti oleh 1000 santri dari Pesantren Bina Insan Mulia 1 dan Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2. Mereka adalah para santri SMP IT Bina Insan Mulia, SMK Bina Insan Mulia, Madrasah Aliyah Unggulan Bertaraf Internasional (MAUBI), SMP Unggulan Bertarf Internasional, dan SMA Unggulan Bertarf Internasional.
Dalam sambutannya yang berapi-api, kiai muda yang kerap dijuluki ‘without the box thinker’ ini menyampaikan pesan mengenai fadhilah dunia-akhirat bagi penghafal al-Quran bagi yang bersangkutan dan orangtuanya nanti. Selain itu, beliau juga mengingatkan jangan sampai hafalah al-Quran sebagai tujuan akhir, tidak dilanjutkan dengan usaha untuk mendalami dan memahaminya. “Akhirnya, hafalan al-Quran hanya sampai kerongkongan, dan itu sangat membahayakan,” tegas beliau.
Kepada para wali santri, beliau berpesan untuk menerima secara baik (ridlo) dan syukur berapa juz pun yang dicapai oleh putra-putrinya. Sebab, dalam menjalankan program tersebut, para santri telah berjuang optimal, penuh disiplin, dan termonitor progresnya oleh para pembimbing dan para guru. “Setiap 10 anak, mendapatkan monitor satu pembimbing atau ustadz dan itu berjalan selama 6-8 jam perhari,” jelas Kiai Imam Jazuli.
Keberhasilan Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 dalam mencetak para hafidz dan hafidzah tak lepas dari penerapan metode pembelajaran berbasis program yang dicetuskan oleh Pengasuh Pesantren sebagai revolusi inovatif. Atas keberhasilan itu, Pesantren Bina Insan Mulia kerap dijuluki pesantren program.
Pembelajaran berbasis program berbeda dengan pembelajaran berbasis buku atau berbasis jenjang. Pembelajaran berbasis program menerapkan target kinerja yang jelas, menuntut fokus dan disiplin, dan pendampingan yang optimal dalam sebuah program. Karena itu, pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien.
Berita baru dari Pesantren Bina Insan Mulia dalam wisuda semester ini adalah dibukanya jenjang pendidikan baru, yaitu SD Internasional Bina Insan Mulia atau BIES (BIMA International Elementary School) di bulan Juli tahun ini. “Dengan BIES, kami ingin mendapatkan kader unggul pembangunan bangsa dari sejak dini,” papar Dr. H.C. Ubaydillah Anwar selaku Ketua Panitia.
Serial Kecerdasan Hati
MEMBERI FEEDBACK NEGATIF KEPADA ATASAN, BAGAIMANA CARANYA?
Ubaydillah Anwar, CSC, CPT. | Heart Intelligence & Soft Skills Specialist
Saya termasuk orang yang beruntung karena dulu atasan saya sering memberikan feedbacak dari cara saya berkomunikasi kepada mitranya di Saudi. Berdasarkan file faksimile, al-marhum atasan saya mengarahkan apa yang harus saya sampaikan mestinya dan bagaimana menyampaikannya. Dari situlah perubahan saya lakukan. Saya yakin banyak orang yang beruntung dari feedbacak atasannya.
Feedback adalah tanggapan kita terhadap apa yang dilakukan orang lain. Ada yang positif dan ada yang negatif. Dalam manajemen, feedback sudah biasa dijadikan alat bantu untuk perbaikan dan peningkatan, baik karakter maupun keahlian. Bagi seorang atasan, memberikan feedback negatif kepada bawahannya dapat dilakukan kapan saja dan relatif dengan cara yang lebih bebas.
Masalahnya adalah bagaimana ketika seorang bawahan, yunior, follower, atau murid ingin memberikan feedback kepada atasan, senior, atau gurunya. Lebih-lebih berupa feedback negatif. Bagaimana caranya?
Ciri pengikut atau bawahan yang bagus, tentu tidak sebatas jujur dan loyal, tapi harus juga pintar, termasuk pintar dalam merespon situasi atau keadaan yang ditimbulkan oleh keputusan atasan yang kurang tepat. Bukan sebatas membiarkan segala keadaan memutuskan dirinya dan memuji, apalagi pujian palsu.
Untuk memperkaya apa yang sudah Anda miliki, saya ingin share sedikit.
Pertama, pasti mengedepankan adab (cara-cara yang sopan yang bisa diterima oleh hati atasan). Cara dalam berkomunikasi jauh lebih penting ketimbang materi komunikasi. Banyak orang yang tidak mau menerima feedback bukan soal materinya, tetapi soal caranya. Apalagi terhadap senior atau atasan.
Kedua, pastikan waktunya tepat dan keadaannya mendukung. Misalnya, meminta waktu khusus agar bisa berbicara secara face-to-face, bukan di ruang umum. Bisa juga menunggu waktu saat dipanggil atau momen lain yang menurut kita tepat untuk menyampaikan.
Ketiga, menyampaikan materi feedback secara tidak langsung. Ibarat makanan, harus dimasak dan dibungkus dulu supaya matang dan enak dirasakan. Konkretnya, yang bisa kita sampaikan antara lain perkembangan situasi, problem yang muncul atau respon orang lain terhadap keputusan atasan berdasarkan bacaan kita. Tentu diperkuat dengan bukti.
Tanpa harus menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan atasan itu perlu dievaluasi, sesungguhnya bukti-bukti di lapangan telah berbicara secara nyata. Bisa juga diperkuat dengan pengalaman orang lain atau hasil study ahli. Yang perlu dihindari adalah menyalahkan orangnya, idenya, atau langkahnya.
Keempat, tetap memberi ruang kepada atasan untuk memberikan tanggapan lebih dulu, baik berupa saran umum, solusi khusus, atau guideline.
Kelima, memasukkan usulan atau ide-ide perbaikan yang kita maksudkan. Akan lebih enak dirasakan apabila kita menggunakan kalimat pertanyaan. Misalnya, kita ingin agar sistem rekrutmen diperbaiki, lalu kita tanya apa respon atasan jika kita menggunakan teknik interview yang lebih professional.
Intinya, feedback adalah komunikasi dan ini tidak bisa disampaikan apa adanya. Baik itu kepada atasan, sejawat, maupun ke bawahan. Semua komunikasi membutuhkan strategi.
Al-Quran mengajarkan banyak hal mengenai hal ini. Kepada Fir’aun yang merupakan penguasa perkasa, Allah SWT menyuruh Nabi Musa dan Nabi Harus agar menggunakan strategi komunikasi yang lunak (qawlan layyina).
Kepada Abu Lahad dan Arwa, pasangan suami istri yang menghalangi perjuangan Nabi Muhammad SAW, Allah SWT tidak menyebut orangnya yang jahat (person) dalam al-Quran, tetapi tangannya dan istrinya yang merupakan si pembawa kayu bakar.
Jadi, Allah saja sangat berstrategi dalam komunikasi-Nya. Semoga bermanfaat.
Serial Kecerdasan Hati
MASIHKAH DUNIA PENDIDIKAN BERPIKIR AKAN MENYIAPKAN PEKERJA?
Dr. H.C. Ubaydillah Anwar
Wakil Ketua Robithoh al-Ma’ahid al-Islamiyah (RMI) Jawa Barat
Hubungan kecocokan supply-demand antara dunai pendidikan (tingkat atas dan tinggi) dan dunia kerja terbukti lemah. Riset dan fakta membuktikan itu. Sebagai respon, maka pada 1990-an, lahirlah konsep CBHRM (Competency-Based Human Resource Management).
Konsep ini setengah tidak percaya dengan nilai akademik. Sekolah barulah dianggap dapat menghantarkan seseorang memiliki kualifikasi, belum kompetensi. Padahal, kebutuhan dunia kerja adalah kompetensi.
Kompetensi berarti kemampuan menerapkan sekian keahlian (skills) yang dibutuhkan oleh peranan, pekerjaan atau profesi yang dampaknya langsung pada hasil (kinerja).
Sebagai contoh, seseorang yang jago komputer di ruang kelas, belum tentu kompeten di pekerjaan professional. Kenapa? Jika dia tidak bisa bekerja sama dengan orang lain, mindsetnya negatif, tidak mau belajar lagi, apalagi suka bohong, maka kinerjanya lama-lama rendah.
Hampir semua lulusan pesantren bisa bicara di podium, sebab itu bagian dari kegiatan wajib. Tapi untuk menjadi speaker handal, seperti UAS atau almarhum Zainuddin MZ, nanti dulu. Menjadi speaker tidak cukup hanya dengan skill. Ia membutuhkan kompetensi.
Ketika tatanan zaman diobrak-abrik oleh disrupsi teknologi dan pandemi, maka kecocokan supply-demand itu semakin tidak jelas lagi. Bahkan sudah mulai muncul fenomena ledakan non-gelar untuk bidang-bidang tertentu. Artinya, posisi kualifikasi semakin didesak minggir oleh kompetensi.
Ini belum lagi bicara soal pengambilalihan mesin (artificial intelligence) terhadap pekerjaan manusia. Jargonnya, satu mesin bisa menangani 50 pekerjaan manusia yang sifatnya rutin dan tersistem. Cobalah suruh ChatGPT untuk menulis satu artikel tentang topik yang umum dengan panjang 350 kata. Lihat, apa hasilnya?
Karena itu, riset Bank Dunia menyimpulkan bahwa untuk Indonesia, di atas 57% semua pekerja (professional) perlu reskilling (dinaikkan skilnya) dan upskilling (ditambah lagi). Apalagi lulusan baru?
Kembali ke pertanyaan di atas, jadi bagaimana? Para pemikir dunia bersuara, dunia pendidikan diminta lebih fokus menyiapkan orang-orangnya dengan berbagai skill yang tidak bisa diganti oleh mesin dan responsif terhadap perubahan zaman. Syukur-syukur bisa membekali kompetensi sekaligus.
Berbagai skill tersebut mengerucut pada tiga klaster utama, yaitu: a) self leadership, b) collaboration, dan c) leading people. Artinya, jurusan apapun, perlu mendapatkan bekal tersebut. Artinya, dunia pendidikan semakin tidak bisa lagi mengoptimalkan pembekalan pada hand (keterampilan) dan head (pengatahuan kognitif), tetapi juga harus heart (heart).
Bahkan menurut riset mutakhir yang menyebut temuannya sebagai “new science” (HeartMarth Institute) justru heart-lah yang mestinya mendapatkan perhatian besar. Sebab, kinerja otak, skill sosial, dan koordinasi jasmani-rohani manusia ditentukan oleh heart.
Riset ini mengukuhkan eksplorasi spiritual ulama tasawuf seribu tahun sebelumnya bahwa hati adalah raja dalam pemerintahan jiwa (malik). Hand dan head adalah pasukan dan pelayan hati.
Serial Kecerdasan Hati
MENYAMBUT LAILATUL QADAR DENGAN DETERMINASI HATI
Ubaydillah Anwar | Heart Intelligence & Soft Skills Specialist
Begitu memasuki hari ke-17 Ramadhan, para imam sudah mengulang-ngulangi bacaan Surat al-Qadr dalam tarawihnya. Bahkan sehari-dua hari sebelumnya sudah banyak yang melakukan. Hal demikian bisa dipahami sebagai doa, semoga mereka mendapatkan Lailatul Qadr.
Jika dikaji dari pendapat ulama, ada tiga pengertian Lailatul Qadr yang begitu dominan.
Pertama, Lailatul Qadr adalah malam keagungan. Disebut keagungan karena pada malam itu al-Quran diturunkan ke langit dunia. Al-Quran adalah kitab suci yang mampu membongkar segala rahasia dunia dan akhirat dengan kepastian tidak ada salah sama sekali (laa royba fihi).
Di samping itu, al-Quran adalah kitab yang berisi pesan dan pelajaran kehidupan yang telah dipermudah oleh Allah untuk dipelajari. Dan itu Allah SWT sampaikan berkali-kali sebagai bukti “keseriusan”.
Sayangnya, hanya sedikit orang yang mau mengambil pelajaran dari al-Quran. Interaksi sebagian besar umat Islam dengan al-Quran barulah sebatas membunyikan redaksinya (lafadz Arabnya). Memang sudah bagus dan sudah berpahala, tetapi untuk diharapkan akan menghasilkan performa hidup dan kemaslahatan manusia, tentu masih jauh jaraknya.
Kedua, Lailatul Qadr adalah malam yang penuh sesak. Dikatakan demikian karena pada malam itu malaikat turun memenuhi bumi untuk mencatat berbagai kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba. Kebaikan di malam itu nilainya sangat tinggi, setara dengan lebih dari seribu bulan. Rasulullah SAW mencontohkan agar kita berjuang keras di malam-malam 10 hari terakhir, terutama di malam ganjil.
Ketiga, Lailatul Qadr adalah malam penentuan urusan besar termasuk urusan manusia berdasarkan apa yang dilakukan. Biasanya, penjelasan ini dirujukkan ke firman Allah dalam dalam Surat ad-Dukhan 3-5:
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul.”
Berdasarkan ketiga pegertian di atas, maka amalan kebaikan yang bisa diprioritaskan (digenjot) adalah yang terkait interaksi kita dengan al-Quran. Sebisa mungkin, kita perlu mendapatkan berbagai pelajaran baru dari al-Quran hingga membuat hidup kita berubah (qodar baru). Khataman baik-baik saja, tetapi prioritasnya jelaslah mengambil pelajaran.
Amalan lain yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak ibadah individual dan ibadah sosial. Kedua ibadah ini tak terpisahkan dalam agama. Hal yang perlu dicatat adalah suatu perbuatan itu dinilai ibadah atau bukan tergantung tiga hal yaitu niat, tata cara, dan hasil (dampak). Mari kita niatkan karena Allah, kita lakukan berdasarkan petunjuk ilmu, dan hasinya nyata kebaikannya bagi kehidupan.
Terakhir, dan ini jarang diingatkan, adalah menciptakan determinasi hati dengan tadabbur (merenung). Determinasi dalam arti kepastian hati untuk menyasar tindakan tertentu untuk tujuan tertentu. Ringkasnya adalah perubahan apa yang kita inginkan dari diri kita agar takdir (qadr) kita berubah. Hal ini perlu kita dialogkan di dalam hati, seorang diri, dan tentang diri sendiri.
Semua perubahan penting manusia diawali dari deterimanasi hati lalu dibuktikan dengan aksi (niat yang kuat). Setelah itu berulah takdir Allah menghampiri. Pasti di dalamnya terdapat dinamika. Ulama besar, Imam Syafi’i berpesan: “Mendambakan kemuliaan hidup tanpa perjuangan sama seperti orang yang menghambur-hamburkan usianya untuk menemukan kemustahilan.”
Semoga bermanfaat.
Serial Kecerdasan Hati
SAATNYA TIDAK MENYALAHKA SETAN DAN KEADAAN
Ubaydillah Anwar | Heart Intelligence & Soft Skills Specialist
“Barang siapa yang mengira dirinya mempunyai musuh yang lebih berbahaya dari nafsunya, berarti dia belum mengenal dirinya.”
Pesan bijak yang ditulis Syekh Nawawi al-Bantany dalam kitabnya Nashoihul Ibad di atas terasa pas sebagai bekal menjalankan puasa Ramadlan.
Banyak orang mempertanyakan realitas yang ganjil. Jika setan-setan itu telah diborgol di Ramadlan, seperti yang dijelaskan Rasulullan SAW dalam hadits yang begitu mashur, lantas kenapa dunia angkara murka berjalan biasa. Bahkan bisa jadi bertambah menjelang Idul Fitri karena kebutuhan hidup yang kurang terkait dengan inti puasa melonjak. Terus?
Terhadap pertanyaan di atas, al-Quran telah menyediakan jawaban, baik al-Quran yang tertulis (kitabiah) maupun al-Quran yang terbentang di alam raya (kauniah).
Pertama, ternyata tipudaya setan itu lemah (QS. An-Nisa: 76). Artinya, kemampuannya untuk menjerumuskan manusia itu kecil. Ini peringatan bagi manusia yang sering menyalahkan iblis atas pelanggaran yang dilakukan.
Kedua, kontribusi terbesar atas langkah manusia justru berasal dari kemampuannya mengontrol hawa nafsu. Hawa adalah kecenderungan, sedangkan nafsu adalah diri. Hawa nafsu sering dipahami sebagai kecenderungan diri yang menjerumuskan manusia ke bawah (hina).
Perlu dicatat bahwa karena hawa nafsu ini modalnya dari Tuhan, pasti ia tidak negatif karena dirinya, tetapi tergantung bagaimana manusia. Hawa nafsu yang terkontrol (self-leader), pasti bagus. Hawa nafsu yang mengontrol (victim), pasti celaka.
Meningkatnya kemampuan kontrol inilah yang menjadi tujuan perintah puasa (la’allakum tattaqun). Sekali lagi, tujuan puasa BUKAN surga atau pahala. Itu balasan yang pasti sifatnya selama mengerjakan dengan iman dan ikhlas. Hilangnya kesadaran untuk meningkatkan kontrol inilah yang membuat orang tetap rakus untuk berebut momen berbuka padahal sedang puasa.
Pusat kontrol manusia berada di hati. Ulama tasawuf menyebut sebagai malik (raja jiwa). Riset HeartMarth Instistute menyebut sebagai global co-ordinator. Fakta membuktikan, ketika hati manusia dikuasai hawa nafsu, maka otak dan perilaku manusia liar secara destruktif. Pengetahuan dan keahlian yang dikuasainya tidak berguna menyelamatkannya.
Satu dari lima tombol untuk mengaktifkan kontrol hati (kecerdasan) adalah perlawanan. Selama sebelas bulan kemarin, dari sekian produk hawa nafsu yang sering membuat kita bermasalah, manakah yang harus kita lawan? Mulailah kita perlu mendeskripsikan perilaku spesifik itu, lalu kita niatkan untuk kita lawan sampai nafsu itu kalah.
Kalimat tauhid adalah perlawanan. Revolusi dan reformasi adalah perlawanan. Tentu, sebagai perang melawan diri sendiri, berlaku juga prioritas, perencanaan, dan pembuktian (action). Bagaimana kalau saya sudah melawan dan membuat rencana, tapi masih gagal? Saatnya tidak lagi menyalahkan setan dan keadaan!
KH. Imam Jazuli Penggenggam Visi dan Ideologi Pendidikan Santri dan Politik
Oleh Dr. HC. Ubaydillah Anwar
TRIBUNNEWS.COM – Ketika melihat alumni pesantren banyak yang memanfaatkan ruang reformasi sebatas di podium untuk mengoreksi realitas, KH. Imam Jazuli justru tidak begitu. Saya dipanggil untuk diajak mendiskusikan sekolah politik bagi para santri yang telah memiliki modal sosial dan material di masyarakat.
Maka berdirilah Sekolah Politik Bina Insan Mulia tahun 2018. “Para santri yang telah memiliki modal sosial dan material di masyarakat, hukumnya wajib masuk dalam pertarungan politik. Jangan jadi santri yang cengeng, yang hanya bisa mengeluh dan menyalahkan tapi tidak punya tindakan,” tegasnya ketika membuka Sekolah Politik Bina Insan Mulia.
Kepada lulusan Universitas Al-Azhar Mesir yang telah menjadi kader partai, kami undang untuk diberi bekal strategi pemenangan, memahami peta aturan, dan manajemen diri. Hadirlah 90 peserta dari seluruh partai di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke di Pesantren Bina Insan Mulia.
Untuk narasumber, kami hadirkan pakar dari SMRC (Saiful Mujani Research & Consulting), pakar psikologi dan branding politik dari Universitas Indonesia, Panwaslu dan KPU. Tak ketinggalan juga mengundang motivator nasional dan menggandeng mitra media.
Sekolah Politik Bina Insan Mulia adalah aktualiasasi perdana dari idealisasi dan ideologi KH. Imam Jazuli di tanah air setelah sebelumnya aktif di politik internasional, baik di Mesir maupun di Malaysia.
Dari Dialog ke Keputusan Politik
Setelah Pemilu 2019, KH. Imam Jazuli mulai aktif menerima kunjungan sejumlah tokoh partai politik dari pusat sampai daerah. Antara lain Ketum PAN, Ketum PKB, Demokrat, Nasdem, Golkar, PDIP, dan lain-lain. Sejumlah kader KH. Imam Jazuli pun banyak yang menempati pos penting di berbagai partai politik.
Seiringan dengan itu, KH. Imam Jazuli melihat kebutuhan lain di masa depan di Indonesia ini, terutama peran kaum santri dalam memimpin pembangunan. Mulailah merintis Pesantren Bina Insan Mulia 2 pada 2020, sebagai pesantren yang memprioritaskan penguasaan ilmu-ilmu kauniyah dengan target lulusan ke perguruan tinggi di negara maju. Antara lain Australia, Amerika, dan Eropa.
“Mestinya, santrilah yang menentukan anggaran pembangunan, santrilah yang mengurus hutan, pertanian, dan jalan raya. Jangan sampai santri hanya kebagian tukang doa saja,” teriaknya suatu ketika di depan para guru dan santri.
Pada perjalanan berikutnya, KH. Imam Jazuli melihat ke luar lagi, ke arah potret posisi NU dalam politik nasional. NU dengan warganya yang mayoritas dalam pesta politik justru kerapkali hanya difungsikan seperti daun salam, hanya sebagai pelengkap.
Dalam refleksinya, NU tidak memiliki SDM yang mumpuni, terutama teknokrat dan birokrat untuk mengeksekusi kekuasaan yang didapat. Di samping itu, strategi NU yang asyik dengan diaspora politik ke berbagai partai dinilai melemahkan NU. Karena itu, diaspora harus diakhiri dan kembali ke satu partai: PKB.
Kiai penggemar kaos oblong ini mulai aktif menggelorakan “Ngaku NU wajib ber-PKB”. Mulailah membuat koas, postingan motivasi, menerbitkan buku, video, dan memfasilitasi berbagai kegiatan intelektual dan sosial untuk kader NU dan PKB.
Langkahnya mengundang ketertarikan banyak pihak. Tokoh pers nasional, Dahlan Iskan, sampai menulis khusus beberapa kali di laman utama webistenya. Tak terkecuali para pembesar PKB Pusat, mulai dari Cak Imin, Gus Jazil, Kang Cucun, dan lain-lain kerap datang untuk mendiskusikan masa depan.
Pilihan KH. Imam Jazuli ke PKB bukan sebatas alasan emosional sebagai warga NU kultural. Ada alasan teologis yang terkait dengan eksistensi ideologi ahlu sunnah wal jama’ah, pelurusan sejarah bahwa hanya PKB-lah partai yang lahir dari rahim NU, posisi kaum santri dalam pembangunan dan kekuatan dakwah NU ke depan apabila PKB menjadi parta besar.
Visi, Strategi dan Ekesekusi
Rentetan gebrakan yang dilakukan selama ini membuktikan bahwa KH. Imam Jazuli adalah sosok yang bervisi. Bervisi adalah produk dari kemampuan seseorang untuk mengkonstruksi potret masa depan ideal dan mampu menjadikannya sebagai energi untuk mencapainya.
Kata Albert Einstein, imajinasi itu lebih penting dari pada pengetahuan. Banyak pengetahuan tak menghasilkan perubahan jika krisis imajinasi dan hampa visi.
Tentu saja, visi semata tidak melahirkan gebrakan apa-apa jika tidak dilanjutkan dengan stretegi dan ekseksekusi. Saya lumayan sering diajak berdiskusi mengenai strategi dengan Kiai Imam. Terkadang di rumah, di jalan, di rumah makan, dan sering juga di hotel. Tapi saya lebih memilih menyimak, mencerna, dan sekali-kali bertanya atau merespon.
Itu saya lakukan karena saya tahu berdasarkan bukti-bukti bahwa Kiai Imam Jazuli memiliki lompatan yang di atas rata-rata soal strategi. Lebih-lebih kalau berbicara soal eksekusi. Kiai penggemar bangunan etnik ini punya nyali yang sudah benar-benar “without the box”. Jika orang berani di angka 5, Kiai sahabat saya ini pasti akan berani di angka 7 sampai 10.
Meruju pada hasil riset Prof. Teresa M. Amabile (1998), dari Harvard University, orang-orang yang kreatif dalam strategi dan eksekusi ini umumnya memiliki tiga hal kembar. Yaitu memiliki energi yang besar untuk mewujudkan visinya, memiliki skill yang handal dari latihannya, dan memiliki keberanian untuk mencoba hal-hal baru.
Makna dan Kontribusi
Bagi perjuangan PKB, hadirnya KH. Imam Jazuli sebagai tokoh ideologis yang telah membuktikan nyalinya, adalah bom keyakinan yang harus digunakan untuk menyingkirkan keragu-raguan dan rasa yang tidak pantas untuk menang atau menjadi besar. Kalkulasinya jelas. Ketika PKB mampu merebut warga NU, tidak usah semuanya, PKB akan menjadi partai besar.
Bagi warga NU, terutama NU kultural, kehadiran KH. Imam Jazuli perlu ditangkap sebagai kesadaran baru. Agar NU powerful dalam menentukan pembangunan, maka dakwahnya tidak cukup kultural dan politik kebangsaan. Harus mendapatkan dukungan dari politik kekuasaan. Caranya sudah jelas, yaitu memberikan dukungan kepada partai politik yang dilahirkan dari rahim NU, yaitu PKB. “PKB besar NU makin perkasa”, tegas Kiai Imam.
Ketika NU-PKB menjalin hubungan sinergis dalam politik, sudah tentu dampaknya akan semakin powerful bagi santri dan pesantren, terutama peranannya dalam pembangunan Indonesia.
Sejarah dunia mencatat bahwa yang mengubah masyarakat itu bukan serdadu militer atau demo massa, tetapi visi seorang visioner yang didukung oleh militer dan massa. Salam Ngaku NU Wajib Ber-PKB.
Penulis adalah Direktur Sekolah Politik Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat dan Heart Intelligence Specialist
Serial Kecerdasan Hati
REFLEKSI 2023: LEBIH PENTING FOKUS PADA ENERGI KETIMBANG PADA RENCANA
Ubaydillah Anwar | Heart Intelligence Specialist
Dalam kisah yang mashur, ketika Sunan Kalijogo melihat orong-orang yang terputus kepala dan badannya, beliau langsung bertindak.
Dari sisa tatal yang dipakai untuk membentuk tiang Masjid Demak, beliau pakai untuk menyambung kepala dan badan binatang kecil itu.
Atas takdir Allah, orong-orong itu bisa hidup (bergerak) lagi.
Kisah ini bila diuji secara history (sejarah), mungkin gagal total. Verifikasi akademik menolak paparan di atas.
Hanya saja, bila dibobot dari aspek story (cerita) yang mengajarkan kehidupan (ibrotan), pastilah sukses besar. Apalagi dikaitkan dengan sosok kharismatik Sunan Kalijogo.
Kisah di atas menegaskan bahwa supaya makhluk hidup itu menjadi lebih hidup (bergerak dan bermakna), maka harus nyambung (connecting) antara otak (head), hati (heart) dan fisik (hand).
Oleh riset ilmuwan modern, peristiwa demikian disebut sebagai “coherence” (nyambung secara harmonis dan sinergis). Ajaran agama menyebutnya dengan istilah taufik (klop).
Ibarat mesin, seluruh sistem dan perangkat dalam mesin tersebut sudah aktif dan siap untuk berperforma tinggi.
Pada posisi koheren, otak mencapai gelombang Gamma: sadar, penuh konsentrasi, dan siap berperforma optimal, seperti orang mau lomba lari.
Tak hanya itu. Berdasarkan teori Triune Brain, hanya pada posisi koherenlah neocortex (otak intelektual) manusia aktif optimal. Tanpa koherensi, yang aktif di otak biasanya malah otak hewan ternak (masa bodoh) atau bahkan otak hewan buas (menerkam orang lain).
Pada posisi koheren, hati manusia mengeluarkan energi besar. Energi inilah yang membuat manusia memiliki kapasitas besar untuk mengontrol diri (menyuruh dan melarang). Ilmuwan menyebutnya sebagai self-regulating skill.
Tak hanya mengeluarkan kekuatan energi, hati juga mengeluarkan cahaya (nuur) untuk menunjukkan otak dan langkah.
Karena koherensi saja belum cukup menurut ajaran agama, maka ditambah satu lagi, yaitu hidayah dari langit. Lalu menjadilah wabillahi taufiq wal hidayah.
Ketika taufik dan hidayah menyatu pada diri manusia, langkahnya mendapatkan energi dan cahaya dari dua sumber. Maka disebutlah cahaya di atas cahaya (nuurun alan nuur).
Tanpa energi dan cahaya, rencana tinggallah rencana, tujuan menjadi kenangan, dan resolusi menjadi catatan yang mati suri.
Untuk memperkaya insight tentang bagaimana menciptakan koherensi hati, silakan eksplorasi di www.kecerdasanhati.com
Semoga bermanfaat.
MEMIMPIN DENGAN HATI YANG CERDAS adalah tema yang disajikan Dr. (HC) Ubaydillah Anwar, CSC, CPT pada sebuah Seminar Pemberdayaan Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Desa dari wilayah Kabupaten Belitung pada Rabu 7 Desember 2022.
Acara yang difasilitasi oleh LEMBAGA PENDAMPING DESA ini, bertempat di Hotel Asyana Jl. Bungur Kemayoran Jakarta, Ubaydillah Anwar mengajak peserta yang berjumlah sekitar 30an orang, untuk menggunakan “Kecerdasan Hatinya” dalam mengelola pekerjaan yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat desa .
Topik yang disampaikan antara lain, Peranan Utama Pemimpin, ada tiga, yakni 1) Sebagai Pendidik, 2) Sebagai Penguasa dan 3) Sebagai Pelayan.
Pemimpin harus mengenal peranan Hati Manusia. agar memahami esensi kecerdasan hati. Dimana HATI itu dipandang sebagai Hati Jasmani ( Jantung / Heart) dan HATI Rohani ( Spiritual).
Hati yang CERDAS harus mencakup Harmonis, Synergis dan kesediaan HATI menangkan cahaya Illahi.
Pemimpin yang memiliki Kecerdasan HATI, mesti mendahulukan tujuan spiritual, untuk kemaslahatan orang banyak, ketimbang Tujuan Material, yang cenderung hanya mementingkan kebutuhan dirinya atau kelompoknya.
Pemimpin Cerdas Hati juga memiliki kemampuan menguasai masalah dan mau mengeluarkan kasih sayang.
Pemimpin yang punya kecerdasan hati, juga mau memperkuat Kontrol Diri.
Ubaydillah Anwar yang sehari-hari menjadi Penulis, Trainer dan Pembicara ini, kerap mem-posting ” tulisan-tulisan di Instagramnya @assi_channelofficial.
Anda membutuhkan Inspirasi Kecerdasan Hati Ubaydillah Anwar? Silahkan huubungi 081310696307