MEMBEDAKAN RIDHO KONSTRUKTIF DAN RIDHO DESTRUKTIF

Serial Kecerdasan Hati

Serial Kecerdasan Hati

MEMBEDAKAN RIDHO KONSTRUKTIF DAN RIDHO DESTRUKTIF

Ubaydillah Anwar | Heart Intelligence & Soft Skills Specialist

“Apakah kalian sudah beriman?” demikian pertanyaan Rasulullah SAW kepada sekelompok orang Madinah yang belum lama bersyahadat. “Tentu, ya Rasulullah, kami beriman,” jawab mereka.

Rasulullah bertanya lagi, “Apa bukti keimanan kalian?” Terhadap pertanyaan ini, mereka diam. Sahabat Umar bin Khattab yang kala itu berada di tengah mereka, langsung menjawab.

“Kami ridlo atas takdir, sabar atas ujian, dan syukur atas nikmat,” demikian Khalifah Umar menjelaskan. Terhadap jawaban itu, Rasulullah SAW langsung menyetujui.

Demikian Imam Ghazali menceritakan kisah di atas dalam Ihya.

Ridho adalah perintah iman. Ridho berarti berdamai secara positif terhadap kenyataan yang sudah tidak bisa diubah, walaupun kita tidak setuju atau tidak pro. Untuk ridho memang butuh modal. Selain iman, dibutuhkan juga keikhlasan dan jembar hati.

Ridho ini sangat berdampak positif bagi jiwa manusia selama dijalankan sebagai rangkaian bersama sabar dan syukur yang terus berthawaf (bergerak melingkar). Ketika seseorang ridho, maka saat itu juga jiwanya terbuka untuk berubah. Pintu perubahan seseorang tertutup rapat ketika sikap batinnya menolak (denial).

Jiwa yang sudah terbuka untuk berubah adalah modal yang sangat bagus bagi perjuangan mengubah kenyataan yang pasti menuntut kesabaran. Sabar adalah kekuatan untuk bertahan dalam memperjuangkan tujuan atau solusi persoalan. Sabar adalah prinsip yang tidak bisa diganti.

Riset HeartMarth Institute (1988) menyimpulkan bahwa daya tahan seseorang dalam memperjuangkan tujuan akan rendah apabila banyak ledakan emosi negatif yang tidak terkontrol. Ridho adalah sistem untuk menyimpan emosi positif dan mencegah ledakan emosi negatif.

Ridho dan sabar saja masih belum optimal kecuali ditambah dengan syukur. Syukur berarti kita menyimpulkan hidup kita hari ini sebagai anugerah yang luar biasa, baik nikmatnya maupun persoalannya (pengalaman yang pasti ada manfaatnya). Karena itu, kita diperintah untuk membimbing hati sehabis sholat dengan bacaan “Al-hamdulillah ala kulli halin wanikmatin” (aku bersyukur atas semua pengalaman dan nikmat).

Dengan bersyukur berarti kita tidak menyimpulkan bahwa hidup kita, lingkungan kita, dan dunia kita gelap total, rusak semua, ancur tak tersisa, tak ada nikmatnya sama sekali. Padahal, dalam keadaan apapun, pasti ada ruang yang bisa kita syukuri, baik hidup kita internal maupun eksternal.

Sebagai perintah iman, bersyukur menyimpan keajaiban. Syukur memberi kebahagiaan, syukur menjadi kekuatan daya tarik pada kenikmatan, syukur dijauhkan dari siksa Allah, dan syukur adalah bukti bahwa kita menyembah Allah SWT.

Ridho yang diteruskan dengan sabar dalam memperjuangan aspirasi, inspirasi, atau visi, lalu digandeng dengan syukur adalah ridho yang konstruktif. Pasti menghasilkan prestasi, kontribusi, atau solusi yang bermanfaat.

Tapi ridho menjadi destruktif, meskipun kerap menghasilkan ketenangan dan kebahagiaan, apabila dipraktikkan sendirian dan terpisah. Ridho menjadi semacam pengingkaran tanggung jawab, pelarian, atau helm bagi kelemahan. Inilah ridho destruktif.

Bersikap ridho saja terhadap penyimpangan dan pelanggaran di sekitar kita secara sosial sangat destruktif. Makanya disebut setan bisu. Dunia ini kacau bukan saja oleh penjahat, tetapi oleh orang-orang baik yang ridhonya destruktif. Suatu negeri tidak hancur selama di dalamnya ada banyak orang yang peduli pada perbaikan (ridho konstruktif).

Demikian juga ketika seseorang ridho terhadap keadaan dirinya hari ini, namun hanya sebatas ridho. Ibnu Athoillah, penulis Al-Hikam, berpesan: “Ibu kemaksiatan, kelengahan, dan kengawuran adalah ridho pada diri sendiri. Dan ibu dari ketaatan, kebangkitan, dan kematangan adalah ketika seseorang menolak untuk ridho.”